Subscribe:

Ads 468x60px

Hosting Gratis

Rabu, 01 Mei 2013

Tinggal di Pinggir Jalan Raya, Anak Jadi Rentan Hiperaktif


Jakarta (Dunianews.com), Orangtua mana yang tak gembira melihat anaknya sehat dan aktif. Tapi jika anaknya terlalu aktif, orangtua perlu khawatir dan mencari tahu ada apa di balik itu. Faktornya bisa beragam, mulai dari kesalahan pola asuh hingga gangguan pola tidur. Namun menurut sebuah studi baru, tinggal di dekat jalan raya dapat meningkatkan risiko seorang anak untuk mengalami hiperaktivitas. Kok bisa?

Menurut studi dari Jerman ini, anak yang terpapar kebisingan tingkat tinggi dari lalu lintas di dekat rumahnya memperlihatkan gejala hiperaktivitas dan kurangnya perhatian 28 persen lebih banyak daripada anak-anak yang terpapar suara bising dengan level paling rendah.

Untuk memperoleh kesimpulan itu, tim peneliti yang dipimpin oleh Carla Tiesler dari Helmholtz Zentrum German Research Center for Environmental Health ini mengamati 900 anak yang tinggal di kota Munich. Peneliti mengukur tingkat kebisingan di luar dinding rumah masing-masing partisipan dan meminta orangtua partisipan untuk mengisi sebuah kuesioner tentang perilaku anak mereka yang rata-rata berusia 10 tahun.

Seperti dilansir Myhealthnewsdaily, Kamis (2/5/2013), anak yang rumahnya mendapatkan paparan kebisingan tertinggi namun jarak dindingnya paling jauh dari jalan raya dua kali lebih besar peluangnya untuk menunjukkan gejala emosi yang abnormal seperti khawatir berlebihan atau lebih manja ketika menghadapi situasi baru dibandingkan anak yang rumahnya jauh lebih tenang. Anak-anak ini juga cenderung susah tidur dan gampang terbangun di tengah malam.

Namun ketika peneliti membandingkan antara efek kebisingan jalan dengan gangguan tidur terhadap gejala emosional pada anak, mereka menemukan bahwa gangguan tidur tampaknya lebih berperan besar dalam menyebabkan gangguan emosional.

Lagipula meski peneliti telah mempertimbangkan faktor-faktor seperti pendapatan keluarga dan kadar aktivitas fisik si anak yang diketahui dapat mempengaruhi perilaku anak, tapi mereka tak dapat memastikan bahwa apa yang mereka temukan yaitu kaitan antara tingkat kebisingan jalan raya dengan masalah perilaku pada anak benar-benar hanya disebabkan oleh kebisingan lalu lintas atau ada faktor lain yang menyertainya.

Pasalnya peneliti tidak mempertimbangkan atau mengukur variabel lain yang bisa jadi berperan terhadap perubahan perilaku anak seperti tingkat kebisingan di dalam rumah. Padahal ada sejumlah gedung yang dapat meredam bising dengan dan ada yang tidak sehingga tingkat kebisingan di luar dinding rumah bisa jadi tak merefleksikan tingkat kebisingan yang ada di dalamnya.

Peneliti juga tidak mengamati kandungan kimiawi dari polusi kendaraan bermotor yang pada studi sebelumnya dikatakan berkaitan dengan masalah perilaku pada anak.

"Makin banyak studi yang memperlihatkan bahwa stresor dari lingkungan, termasuk suara bising dan polusi kimiawi dapat mempengaruhi perilaku anak dan kesehatan mental anak," tandas Michelle Bosquet, seorang psikolog dari Boston Children's Hospital yang tidak terlibat dalam studi ini.

"Padahal faktor lingkungan seperti suara bising lalu lintas dapat berdampak terhadap otak anak, terutama dalam periode tumbuh-kembangnya, termasuk meningkatkan peredaran hormon stres dalam tubuhnya dan mengganggu kemampuan anak untuk tidur dan berkonsentrasi," tambahnya.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Environmental Research.


Sumber : detik.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih Anda sudah berkunjung ke Dunianews (Portal Berita Online) * Dapatkan berita terbaru disini...